Senin, 09 Desember 2024

Bait bait mengenangmu

 Aku yang dulu pernah

Dimanjakan olehmu

Diratukan dengan pelayananmu yang penuh kasih..

Sebegitu indahnya kala itu..

Hidup bagai seperti diskenario sinetron..

Kalau kangen langsung telepon ingin bertemu..

Gayung bersambut mengijinkan cinta berjalan mengikuti alurnya...

Begitu hangat begitu mesra..

Kau rela menunggu jam pulang ku..

Hanya untuk luapkan rasa rindu..

Jauh jauh kau datang, tapi kau lakukan juga demi penuhi rasa bergelayut di dada

Jarak bukan kendala ketika cinta bicara..

Lelah bukan hambatan ketika rindu berderu..

Yang ada hanya gigihmu mempertaruhkan sebuah rasa..

Habis pulang kerja, padahal lagi capek capeknya

Jemput aku yang pulang dari kampung halamanku..

Kijangmu nekad kau tanjakan di jalan ketinggian..ya Allah bangga liat seeffort itu..

Ingat juga ketika aku berangkat kerja

Langkah kaki menuju bis yang berhenti

Dengan adegan dramatis kau balap bus itu dari sebelah kiri dan sempat kagetkan aku..

Ahh.. teringat itu, jujur aku bangga liat atraksimu..

Kalo ada lelaki yang intens menelepon

Berkabar nyampe di tempat kerja

Lalu ngobrol sampai berangkat bus yang kau kendarai..

Sampai tempat kau tuju, kau selalu konfirmasi menghubungi..

Itu yang aku paling suka darimu..

Yang selalu menanyakan sudah makan? Setiap saat selalu kontrol aku di mana..

Betapa bucinnya...

Selalu antisipasi bila ada hal2 yg bisa buat bahaya menimpaku..

Yang rela belikan sesuatu yang berharga buatku..

salam rinduku saat ini dan seterusnya hanya untukmu

Walau kau tak lagi bisa ditemui di alam nyata..

Simpan rasaku hanya untukmu..

Yang pernah dekat, lekat..

Alfatihah buatmu❤️


Jumat, 04 Oktober 2024

REFLEKSI DWI MINGGUAN PGP

 Dalam pendidikan guru, jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga Anda dapat semakin mengenali diri sendiri.

Seperti apakah refleksi yang bermakna itu?

  • Kegiatan berefleksi dapat diibaratkan seperti bercermin di air. Pantulan baru dapat terlihat jelas jika permukaan air tenang dan jernih. Ketika kondisi hati masih berkecamuk, sebaiknya kita menunggu dan mengendapkan pengalaman agar dapat berefleksi dengan mendalam.  
  • Refleksi perlu beranjak dari sekadar menuliskan kembali materi/pengetahuan yang sudah didapat. Lebih dari itu, materi tersebut perlu dikaitkan dengan proses yang terjadi dalam diri. Misalnya, apa yang membuat materi tersebut membekas di pikiran saya? Apa peristiwa dalam hidup saya yang berhubungan dengannya? Apa kaitan materi ini dengan diri saya sebagai seorang penggerak? Bagaimana saya akan menggunakan materi ini untuk murid saya?
  • Refleksi adalah momen untuk berdialog dengan diri sendiri dalam memaknai peristiwa. Karena itu, ceritakanlah pengalaman dan pemikiran yang ANDA sendiri alami. Bukan apa yang dialami, dipikirkan, atau dikatakan oleh orang lain.
  • Refleksi bermakna adalah refleksi yang jujur dan mendalam. Tidak hanya pengalaman dan pemikiran positif yang bisa ditulis. Kuncinya, sertakan emosi dalam menuliskan refleksi. Roda emosi Plutchik pada di bawah ini memberikan gambaran betapa kayanya perasaan yang manusia rasakan.  


Sumber: bit.ly/2d5PGN diterjemahkan oleh Ivan Lanin (2009)

Sama halnya dengan keterampilan lainnya, menulis jurnal refleksi pun perlu latihan dan pembiasaan agar dapat dirasakan manfaatnya. Selama program, Anda akan mendapat kesempatan untuk menuliskan refleksi setiap dua minggu sekali. Pada awalnya, mungkin tidak mudah untuk menuangkan gagasan reflektif ke dalam tulisan. Karena itu, untuk membantu Anda, kami menyajikan beberapa model refleksi yang dapat Anda gunakan. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di setiap model tersebut berfungsi untuk memandu Anda dalam mencurahkan isi pikiran dan perasaan Anda. Tuliskan jawaban dari pertanyaan tersebut dalam bentuk paragraf (tidak dalam poin-poin bernomor). Cobalah untuk memvariasikan model yang berbeda di setiap tulisan. Selamat berefleksi!

  

REFLEKSI KONSEP PEMBELAJARAN KHD

 REFLEKSI KONSEP PEMBELAJARAN KHD  

Menurut Ki Hajar Dewantara (KHD), pengajaran  adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberikan ilmu yang berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan  adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tersebut menegaskan bahwa pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang  tidak dapat dipisahkan.

Ki Hajar Dewantara juga mencetuskan semboyan yang sangat menginspirasi dalam dunia pendidikan yaitu Ing ngarso sung tulodho (di depan memberi teladan), ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat atau kemauan), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Trilogi semboyan pendidikan tersebut hingga kini terus berusaha diwujudkan dalam pengajaran dan pendidikan di Indonesia.

Secara teoritik pemikiran KHD sudah relevan dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini. Apabila kita tinjau kembali Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, pemikiran KHD telah terserap dalam kerangka pemikiran titik keberhasilan pendidikan secara nasional. Tetapi masalahnya, secara praktik pemikiran-pemikiran KHD tentang pendidikan dan pengajaran belum mampu secara utuh dan konsisten hidup dalam masyarakat pendidikan nasional.

Kita menemui pendidikan hari ini belum memberikan tuntunan pencapaian kodrat diri anak dan kebahagiaan dalam proses belajar. Sekolah masih harus terus berbenah agar mampu menjadi wadah tumbuhnya kodrat diri para peserta didik secara optimal. Pendidik masih harus terus belajar agar tidak lupa menuntun siswanya untuk mencapai kodrat diri dan terus mencoba menerapkan trilogi pendidikan. Pemikiran KHD apabila kita sandingkan dengan fenomena sekarang ini, di tengah tuntutan administrasi yang menuntut pendidik untuk mengerjakan. Tuntutan ambang batas angka ketuntasan belajar harus dikaji kembali, karena sedikit banyak membuat peserta didik tertekan dalam proses belajar, jelas hal itu bukan menjadi sebuah keselamatan dan kebahagiaan dalam belajar.

Sebagai refleksi dalam kehidupan sehari-hari saya sebagai pendidik, pemikiran KHD memang belum optimal diwujudkan. Proses transfer ilmu berfaedah demi kecakapan peserta didik memang sudah senantiasa dilakukan secara lahir, namun proses transfer ilmu secara batin masih harus dipertanyakan. 

Terkadang saya masih menganggap bahwa menjadi guru hanyalah sekadar profesi sehingga mengabaikan proses menuntun dalam keseharian mendidiknya. Trilogi semboyan pendidikan KHD juga belum mampu saya terapkan dengan maksimal dalam proses pengajaran di sekolah. Hal-hal inilah yang hingga kini terus saya  jadikan bahan renungan untuk terus belajar.

Dengan mempelajari modul 1.1 ini secara komprehensif, saya berharap mendapatkan energi dan feedback positif . Selain berharap mampu memahami pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara secara utuh menyeluruh hingga mampu menerapkannya untuk diri sendiri sebagai pendidik, saya juga berharap agar mampu menuntun peserta didik untuk mencapai kodrat diri, bahagia dalam setiap pembelajaran, tanpa tekanan dalam belajar dan mampu menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat. 

Dalam pembelajaran modul 1.1, saya berekspektasi untuk perlu adanya kegiatan diskusi secara fokus dan mendalam terhadap penerapan pemikiran KHD dalam keseharian pengajaran di sekolah dan pembahasan metode pengajaran yang mampu menuntun anak mencapai dan menguatkan kodrat anak,tumbuhnya kodrat diri para peserta didik secara optimal. Pendidik masih harus terus belajar agar tidak abai "menuntun" siswanya untuk mencapai kodrat diri dan terus mencoba menerapkan trilogi pendidikan pemikiran KHD di tengah tuntutan administrasi yang menggunung.

Akan tetapi saya sangat senang belajar dari materi ini, karena menggugah jiwa saya sebagai pendidik untuk lebih memposisikan sebagai pendidik yang bisa mengantarkan peserta didik belajar dengan selamat dan bahagia. Melaksanakan pembelajaran yang menghamba kepada kebutuhan peserta didik.

 https://youtu.be/YBqW3vwIw-c?si=nFbvTUfB1_ELAQnE

 

 


Kamis, 03 November 2022

Abu Sudja' Ulama Desa yang Bersahaja

  ABU SUDJA' ULAMA DESA YANG BERSAHAJA.

Oleh : Zahrotul Fitriyah, S.Pd

Kyai Abu Sudja' lahir pada tanggal 15 Juni 1905 di dusun Tawang Rejo desa Rembang Kepuh kecamatan Ngadiluwih kabupaten Kediri. Berdasarkan wawancara Penulis dengan salah satu putri Beliau, Kyai Abu Sudja’ adalah berpencaharian sebagai seorang petani. Tetapi dedikasinya terhadap dunia pendidikan agama sangat luar biasa. Ini terbukti dari cerita sang putri ragilnya dari isteri yang ketiga. Semua anak-anaknya dididik sendiri oleh Beliau dalam hal mengaji.

Riwayat hidupnya pada tahun 1941 sampai dengan tahun 1957, Beliau menjalani hidup sebagai seorang petani dan mengajar tanpa mendapat gaji atau boleh dikatakan mengajar dengan cuma-Cuma. Itu Beliau lakukan dengan tekun, sabar dan telaten.

Pada tanggal 09 Nopember 1956 hingga tanggal 05 Juli 1959, Kyai Abi Sudja’ menjadi anggota Dewan Konstituante Republik Indonesia. Beliau seorang Hafidzul Quran. Pendidikan Beliau pernah sekolah di AMS (SMA) / sederajat dan S1 Bachelor / sederajat. Beliau juga nyantri di Pondok Tebu Ireng Jombang selama lima tahun. Disamping itu juga pernah tholabul ilmi ke pesantren Siwalan Pandji di Sidoarjo. Bahkan Beliau mencari ilmu hingga ke tanah suci Makkah  selama kurang lebih tujuh tahun. Disana Beliau menghafal Al Quran 30 juz selama tujuh bulan saja. Betul-betul karomah yang diberi oleh Allah atas waktu yang cukup singkat untuk menghafal kitab suci-Nya. Bila saja otaknya  bisa dibuka, mungkin tertulis ayat-ayat Al Quran di sana. Andai hatinya bisa diterka, aka nada rekaman firman-firman Allah di sana. Di negei Hijaz ini, Beliau juga mempelajari kitab-kitab yang lain selain Al Quran. Belajar dari dari satu guru ke guru yang lain. Mungkin ini yang membuat jiwanya terpatri tak pernah lepas dari Allah dan rasul-Nya.

Kyai Abu Sudja’ sangatlah gagah. Beliau memiliki kuda yang ditungganginya kemana-mana.  Beliau beristeri tiga  orang dan memiliki tujuh belas orang putera puteri dari hasil pernikahannya. Walaupun demikian ketiga isteri dan anak-anaknya hidup rukun, damai dan tenteram. Rumah isteri kedua dan ketiga saling berhadapan. Pun rumah anak-anaknya dari ketiga isterinya juga berjajar berderet. Sekarang jalan gang yang menuju ke rumah Beliau dinamakan jalan Abu Suja’.

Pada jaman agresi militer kedua, Kyai sangatlah ditakuti Belanda. Beliau menjadi salah satu Kyai buronan Belanda, karena dianggap ekstrim atau berbahaya bagi Belanda. 

Pada jaman pemberontakan PKI tahun 1965, Beliau dan isteri serta anak-anaknya menjadi target sasaran PKI untuk dibunuh. Bahkan sudah disediakan lubang galian untuk kyai dan keluarganya ini. Walhasil, kyai selalu dikawal Banser dan Pemuda Ansor kemanapun pergi. Akhirnya gerombolan PKI sendirilah yang celaka dan masuk ke dalam lubang galian tersebut. Siapa menggali dia yang celaka sendiri.

Tidak hanya berhenti di situ  saja, upaya PKI untuk mengganggu keluarga Kyai. Perkebunan tebu milik haji Abu Sudja’yang waktu itu menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU kabupaten Kediri, dipanen habis-habisan oleh PKI. Tanaman tebu seluas tiga hektar itu ditebang PKI, BTI (Barisan Tani Indonesia) dan langsung menjualnya ke pabrik gula Ngadirejo. Karena Pemilik tanah sudah kenal dengan pimpinan pabrik, maka tebu yang dijual PKI itu uangnya diberikan kepada Abu Sudja’. Betapa marahnya PKI atas perlakuan ini. Mereka merasa terkecoh. 

Usaha PKI tidak pernah kehabisan akal. Ada saja tipu daya mereka. Mereka kemudian memagari lahan tebu yang masih tersisa dan mengklaim sebagai lahan BTI. Ketika merasa pemimpinnya terganggu, pemuda Ansor bangkit melawan PKI.bahkan para pendekar Pagar Nusa merasa tersinggung atas ulah PKI ini. Kemudian mereka berangkat mencabuti pagar lahan yang dibuat oleh BTI, dan mengganti dengan menancapkan bendera Ansor di sana. Karena jumlah Ansor lebih banyak, dan PKI sedikit, maka mereka lari tunggang langgang meninggalkan lahan yang sebelumnya dikuasainya.

Pernah pada suatu hari, dan ini kerap sekali setiap habis panen, rumah Kyai disatroni perampok. Suatu ketika rumah Kyai didatangi sekawanan perampok satu mobil. Mereka berniat menyandera Kyai, isteri dan anak-anaknya, dan akan menguburnya hidup-hidup.  Mereka mengikat Kyai di kursi, dan berhasil mengambil uang dan perhiasan yang ada. Kyai berkata,”Kamu ambil semua harta bendaku tidak apa-apa. Tapi jangan coba-coba kamu semua menyakiti anak dan isteriku!”

Perampok berhasil mengambil semua harta benda, tetapi selang beberapa hari kawanan perampok itu ditangkap polisi, bahkan sampai dilakukan rekonstruksi di rumah Kyai.

Kegiatan rutin Beliau setiap ramadhan adalah menjadi imam shalat tarawih dan witir di masjid Al Munawar. Masjid ini adalah hasil tanah wakaf abah beliau yaitu Mbah Munawar. Banyak warga kampung yang mengeluh dengan diimami Kyai Abi Sudja’, karena surah yang dibaca ketika tarawih adalah surah Al Baqarah dan surah-surah panjang lainnya.Bahkan tarawih selesai pada jam 11 malam. Selain itu, Kyai juga mempunyai jadwal pengajian rutin seminggu sekali di masjid Setono Gedhong, masjid yang dekat dengan makam Auliya Kediri yaitu Mbah Wasil.

Beliau juga termasuk salah satu Kyai pentashih kitab, tetapi belum diketahui putri ragilnya dari isteri yang ke tiga ini, kitab apa namanya. 

Beliau juga dikenal unik, tidak suka apabila dipanggil dengan julukan Pak haji atau Pak Kyai. “Jenengku iku Abu Sudja’, dadi aku ora seneng diembel-embeli ngunu kuwi.” kata Beliau kala itu.

Kunci keberhasilan Beliau adalah istiqamah mengaji dan juga bekerja. Jadi seimbang antara dunia dan akhirat. Meskipun tergolong piyantun yang lahir pada jaman kolonial, tetapi pemikiran Beliau sangat demokratis. Semua anak laki-laki dan perempuannya disekolahkan hingga tingkat tinggi menjadi mahasiswa, walaupun ada yang menolak tidak mau kuliah dan hanya mau belajar di pesantren saja.

Beliau memang tidak memiliki pesantren, tetapi suka mendidik keponakan-keponakan dan saudara-saudaranya yang jauh dan dekat dari pihak ketiga isterinya di rumah Beliau. Jadi suasana sama persis seperti di pesantren.

Sebelum meninggal Kyai mewakafkan tanah Beliau untuk kepentingan masjid dan madrasah. Pesan Beliau kepada anak cucu dan warga setempat untuk selalu merawat, menjaga tanah wakaf yang telah didirikan masjid dan madrasah, supaya hasilnya tetap baik dan bermanfaat. Beliau meninggal pada usia 85 tahun, dan dimakamkan di desa Tawang Rejo desa rembang Kepuh kecamatan Ngadiluwih.


                                            


Jumat, 04 Maret 2022

Hanya Sebuah Fantasi

 Hanya Sebuah Fantasi


Bodohnya diri ini

Tolol dan dungu

Hanya berekspektasi

Tanpa ada upaya diri

Untuk bisa menjadi lestari


Aku hanya sibuk dengan diri

Menelantarkan rasa yang merasa tersakiti

Membiarkan merpati putih terbang mencapai heningnya hati


Apa dayaku

Rasa tak cukup dianulir

Logika tak kuat buat berpikir

Aku hanyalah ...

Bukan penguasa hati milik sang merpati ...

Dia tetap ingin terbang tinggi ...

Mungkin mata ini tak bisa menembus batas kepak-kepak sayapnya ...

Hanyalah hati, yang tinggal meratapi

Semua butuh terjadi

Untuk merpati mencapai ujung hening malam ini

Seputih sayapnya sedamai harapnya


Ujung malam, March 4th 2022

Kamis, 05 Agustus 2021

 Tersungkur Asa

Harapku kian tipis, ketika kamu kemarin membentakku dengan kata-kata yang tak ingin aku dengar. Aku membayangkan itu ketika kamu berbicara di dekatku. Aku tak kuasa menerima. 

Tapi toh akhirnya aku menyadari ketika kamu mengucap bahwa aku menyakitimu dengan kata yang membuatmu terperanjat. Aku tidak tahu kondisimu. Aku mengira dan sangat berharap kamu baik-baik saja.

Pada akhirnya aku harus menerima kondisi ini. Kita sama-sama tersakiti oleh kata yang meluncur tanpa arah. Karena menuruti ego diri yang tak terkendali.

Hal yang tidak kita inginkan terjadi. Aku yang berusaha ingin diperhatikan olehmu, dibuai oleh lembutnya sikap dan kasihmu tiba-tiba harus tersandung oleh sebuah frasa tak terbendung.

Pengorbanan diri tak pernah aku rasai sebagai beban di hati. Aku baru tahu dan mengerti, denganmu, aku tak pantas menuntut sebuah ekspextasi akan berharganya diri. Aku harus mengerti dan mengerti kamu. Tapi ternyata, aku tidak lulus di uji dengan semua ini.

Sabtu, 17 Juli 2021



Penulis : Zahrotul Fitriyah (Zahra Fitria)

Judul : HIDUP TAK BOLEH REDUP

BAB 4 : Titik Terendah Kehidupan


Pernahkah kamu merasa berada pada titik terendah kehidupanmu? Merasa seolah-olah dirimulah yang paling menderita di dunia ini? Jatuh pada jurang kehidupan yang paling dalam?


Sebuah episode mencekam, menegangkan sekaligus menguras tenaga, pikiran dan perasaan menghadapi tantangan hidup? Apalagi di masa pandemi ini, memang suatu keniscayaan bila hampir seluruh umat manusia merasakan hal yang sama.


Bagaimana tidak? Bila hampir semua lini sisi kehidupan terkoyak sudah. Seperti tak ada lagi harap. Kegiatan perekonomian macet, tidak bisa menghasilkan pundi-pundi keuangan lagi. Kalaupun toh ingin meraup untung dari hasil penjualan, juga tidak bisa maksimal. Udah deh, kayak fatal. Itu yang bergulat di dunia pasar, seperti Pak Ahmad.


Dunia pasar memang tidak bisa kita pungkiri, semua bergantung kepada konsumen. Daya beli konsumen tinggi, maka hargapun ikut melonjak, apalagi tidak adanya ketersediaan barang. Waah, bisa parah dah. Bila daya beli konsumen rendah, harga bisa jadi murah. Dan itu bila stok barang melimpah.


Tapi kalau dipikir, apakah mungkin masa pandemi ini stok bisa melimpah bila pengiriman barang dari luar mengalami penundaan kirim karena operasi di jalan untuk kendaraan juga banyak yang dirazia? Tapi kalau kebutuhan pasar bisa diakomodir oleh daerah sendiri, itu masih lumayan. Ini yang terjadi di pasar nyata. Belum tahu juga kalau harus menengok pasar saham, mungkin tetap berimbas kepada nominal per-sahamnya. Ahh, kalau mikir yang begini mah, bisa pusing sampai-sampai botak kepala.


Memang dunia itu sempit kali yaa? Artinya kita menyikapi dari satu sisi saja, tanpa mau berpikir ke sisi lain yang sebetulya bisa menjernihkan hati dan pikiran kita. Bu Hasanahlah orangnya. Seorang perempuan yang bisa dikatakan tegar menghadapi setiap ujian kehidupan. Tidak banyak menuntut kepada suaminya, menerima dengan ikhlas apa yang diterima serta bisa memberi dorongan kuat kepada Pak Ahmad untuk jalani hidup dengan sabar dan tawakkal.


Latihan urip soro, sudah dijalaninya dari kecil. Sehingga bila menjumpai terjalnya sandungan hidup, dia masih bisa berpikir jernih. Pengalaman belajar serta menuntut ilmu di pesantren jadi landasan kuat untuk bisa bertahan hidup sekaligus menjernihkan hati. Sehingga tidak sampai khilaf ketika cobaan melanda.


Kalau kita pikir, sebetulnya berapa sih bayaran untuk tenaga honorer seperti dia di sekolah swasta? Gajinya nggak akan cukup untuk membayar dunia ini. Jangankan dunia, biaya pendidikan anak-anaknya saja kalau sudah tiba waktunya, kadang tidak ada apa yang harus dibayarkan. 


Kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi, itu sudah sesuatu yang patut disyukuri untuk keluarga Bu Hasanah dan Pak Ahmad. Tidak ada kata lebih, sederhana itulah yang berkah. Kalau hidup untuk membayar gengsi demi sebuah prestise diri, pasti jatuhnya tidak akan membawa manfaat hakiki. Justru menjatuhkan diri ke kubangan kehidupan yang sedih.


Sebuah biduk rumah tangga memang membutuhkan seorang pemimpin keluarga yang hebat dan tangguh.Tetapi kehebatan dan ketangguhan seorang suami tidak akan ada artinya bila tidak didukung pasangan perempuan yang hebat pula. Keduanya harus saling menguatkan. Saling bekerja sama, tolong menolong satu dengan yang lain. Berdiskusi ketika ada masalah dan mencari solusi untuk keluar dari rumitnya cobaan hidup yang menghimpit.


Bu Hasanah memang sederhana, tetapi soal keyakinan hidup, kematangan berprinsip tidaklah sederhana. Dia memang perempuan kampung yang dari kecil hidup dalam kebersahajaan. Orang tua-nya hanya seorang guru sekaligus petani desa. Tetapi keinginannya untuk selalu menimba ilmu dalam hidup tidak  pernah pudar hingga dia memiliki anak-anak yang sudah besar dan dewasa.


Soal fisik rupa, Bu Hasanah juga tidak jelek. Bahkan semakin dipandang, semakin nampaklah  aura cantik-nya. Siapa yang pertama kali bertemu dengan-nya, kesan yang ada pastilah menilai orang yang sabar dan bijak.


Terhimpit pada masalah rumitnya hidup, sudah bukan barang baru buatnya. Keyakinan terdalamnya, barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia yang akan mencukupi keperluan makhluk-Nya. Memiliki hati sebening embun, haruslah diasah. Diberi-Nya manusia dengan cobaan adalah sarana Allah meningkatkan derajat bagi orang yang bertaqwa. Meskipun manusia itu berada pada titik terendah kehidupannya.






Bersambung...

Selasa, 30 Maret 2021

 Duhai tulang rusuk yang beralih fungsi jadi tulang punggung, semoga Allah memberikan kekuatan dan ketabahan. Keiklasah dan ketegaran.


Jujur aku menangis membaca ungkapan hati ini😢

Entah siapa penulis Aslinya,

yang pasti tulisan ini...aku suka 😊

Jadi perempuan harus siap dengan posisi serba salah.🥀


Perempuan dituntut untuk memeluk kekurangan dan aib keluarga.

Perempuan dituntut sholehah, cerdas dan selalu menarik.


Perempuan dituntut sempurna menjadi bidadari suami dan madrasah pertama keturunannya.


Sepertinya semua hal tersebut masuk akal berlaku ideal bila suami pun telah sempurna tahu dan faham menempatkan dirinya.

Ketika laki-laki telah absolut mumpuni sebagai imam, pembimbing dan kepala keluarga yang bertanggung jawab.


Tidak hanya bertanggung jawab soal materi, tapi juga soal religi, psikologi, emosional dan fasilitas seluruh anggota keluarga.

Sering kah dengar dan melihat perempuan sakit jiwanya?


Tubuh nampak sehat tapi jelas nampak ada tidak kestabilan psikologis dan emosional??

Atau akhlaknya menyejukkan tapi fisiknya ringkih sakit-sakitan??

Sering ya Perempuan

Kalau berkoar kesengsaraan di umum, dikata tak pandai jaga rahasia.


Kalau dipendam, lama-lama jadi gila.

Lalu tidak jarang akhirnya makhluk terdekat lah yang jadi pelampiasan kekesalannya.

Yaitu anak-anaknya 😔😢🥀

Suami main tangan, ada

Suami lalai nafkah, ada

Suami abai kebutuhan keluarga, ada

Suami gila perempuan, ada

Suami tidak peka kewajiban, ada

Suami tak faham memimpin, ada

Suami jauh agama, ada

Tapi ketika suami selingkuh... 


perempuan dikata isteri tak luwes menyenangkan suami

Ketika suami KDRT...

Perempuan dikata tak pandai jaga sikap

Ketika suami marah...


Perempuan dikata tak cerdas jaga mulut

Perempuan terluka dalam diam, lalu semua hancur, ia dibodoh-bodohkan banyak orang.

Perempuan curhat dan berbicara, berbagi kesah mengurangi derita,

Dianggap tak punya iman dan tidak tahu malu.

Anak-anak kacau, yang disalahkan asuhan ibunya.


Anak-anak menonjol, yang dikenal dia anaknya bapak siapa.

Wanita dituntut untuk menjaga keseimbangan keluarga.

Sudahlah rusak badan karena hamil, melahirkan, dan suaminya.


Masih pula jungkir balik kaki jadi kepala, kepala jadi keset keluarga.

Namun bila terpaksa ada tuntutan karena kondisi yang belum layak....

Seringnya wanita juga terhakimi sebagai makhluk kurang bersyukur.


Ahh ibu, perempuan, wanita.

Pantas kau lebih cepat terlihat tua.

Surga dijanjikan di telapak kakinya,

Namun ancaman neraka juga ditakdirkan banyak dipenuhi oleh kaumnya.

Perempuan oh perempuan, semilyar yang harus kau taklukkan dengan segala paradoksal-nya.....


Iya atau bukan pengalaman pribadi saya,

tapi semoga dapat sedikit menguatkan sesama perempuan-perempuan kuat dimanapun berada.


#Muhasabahdiri

Smg perempuan2 wonder woman yg baca postingan ini sehat,bahagia,dan sukses slalu ...aamiin aamiin yra 💪💪🤲🤲

#copas

#untuknasehatdiri

Rabu, 24 Februari 2021

Rayu Takdirku

 #Merayu #Takdir


Malam hitam tak sepekat aku memandanginya..

Nuansa beda ktika aku mencoba menghidupinya..

Adakah selaksa makna di sana..

Ktika ku merajukMu untuk sekedar menyapa..


Hadirku..

Mungkin Kau tak rindu

Tapi akulah yang rindu mendekatMu..

Berjuta harap..ingin menggapaiMu..

Melalui sujud dan tangisku..


Jerit teriak batin menghenyak..

Ktika aku ingin beranjak..

Menghapus rasa di dada yang penuh sesak..

Duhai..oh wahai..penguasa hati yang bergejolak..


Nestapa hati..Kau selalu tampak..

Hingga aku bisa memperisai hati yang terkoyak..

Sadarku..makin kian terisak..

Merasa lunglai..oleh rasa yang melonjak..


Gustii..

Dekap diri..

Dalam buaian mimpi..

Untuk menyentuhMu..Dzat abadi..


#rasakuwawa

24/3/2019

Rabu, 10 Februari 2021

Puisi tentang kita

 Aku tetap saja menangis

Walau aku sudah merasa kuat

Aku tetap saja ingin tau tentangmu..

Walau aku kliatan tak peduli


Aku ga tau rasa apa ini

Tapi mengapa sepi ktika aku sendiri

Kalau kau ngga ngijinin aku 

Bertanya tentangmu..

Gapapa...itu lahirku


Dan hatiku juga harus memaksa..

Untuk menasehati diriku

Walaa qodiirun, walaa muriidun, walaa 'aliimun

Semua yang terjadi di dunia ini..

Tentangmu..tentangku...

Smua atas kuasa, kehendak dan kemaha tahuan Ilahi


Maaf, aku harus bisa meredam

Dengan cara begini..yang buatku diam

Kalau kau memang harus buatku bungkam

Saat ini...esok dan lusa..atau selamanya, aku ingin diam

Selasa, 09 Februari 2021

Tips sehat

 ➿ *T͟I͟P͟S͟ SEHAT*


1. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ j͟a͟n͟t͟u͟n͟g͟,  h͟i͟n͟d͟a͟r͟i͟ k͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟a͟n͟ g͟a͟r͟a͟m͟.

2. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ h͟a͟t͟i͟,  h͟i͟n͟d͟a͟r͟i͟ m͟a͟k͟a͟n͟a͟n͟ b͟e͟r͟l͟e͟m͟a͟k͟.

3. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ p͟e͟r͟u͟t͟,  h͟i͟n͟d͟a͟r͟i͟ m͟a͟k͟a͟n͟a͟n͟ d͟i͟n͟g͟i͟n͟.

4. J͟i͟k͟a͟ A͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ u͟s͟u͟s͟,  g͟a͟n͟t͟i͟ j͟u͟n͟k͟ f͟o͟o͟d͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟y͟u͟r͟a͟n͟

5. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ p͟a͟n͟k͟r͟e͟a͟s͟,  h͟i͟n͟d͟a͟r͟i͟ m͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟n͟y͟a͟n͟g͟.

6. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ G͟i͟n͟j͟a͟l͟,  m͟i͟n͟u͟m͟l͟a͟h͟ b͟a͟n͟y͟a͟k͟ a͟i͟r͟ d͟i͟ s͟i͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟i͟,  m͟i͟n͟u͟m͟ l͟e͟b͟i͟h͟ s͟e͟d͟i͟k͟i͟t͟ a͟i͟r͟ d͟i͟ m͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟r͟i͟,  k͟o͟s͟o͟n͟g͟k͟a͟n͟ k͟a͟n͟d͟u͟n͟g͟ k͟e͟m͟i͟h͟ a͟n͟d͟a͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ t͟i͟d͟u͟r͟.


7. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ O͟t͟a͟k͟,  t͟i͟d͟u͟r͟l͟a͟h͟ s͟e͟l͟a͟m͟a͟ d͟e͟l͟a͟p͟a͟n͟ j͟a͟m͟.


8. J͟i͟k͟a͟ a͟n͟d͟a͟ m͟e͟r͟a͟w͟a͟t͟ j͟i͟w͟a͟,  m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ I͟n͟t͟i͟m͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ S͟a͟n͟g͟ P͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟,  A͟l͟l͟a͟h͟ Y͟a͟n͟g͟ M͟a͟h͟a͟ K͟u͟a͟s͟a͟.

H͟i͟d͟u͟p͟ i͟t͟u͟ s͟e͟d͟e͟r͟h͟a͟n͟a͟,  

y͟a͟n͟g͟ r͟u͟m͟i͟t͟ i͟t͟u͟ p͟i͟k͟i͟r͟a͟n͟ k͟i͟t͟a͟.

H͟i͟d͟u͟p͟ i͟t͟u͟ m͟u͟r͟a͟h͟,  

y͟a͟n͟g͟ m͟a͟h͟a͟l͟ i͟t͟u͟ g͟e͟n͟g͟s͟i͟ k͟i͟t͟a͟.

M͟a͟r͟i͟l͟a͟h͟ k͟i͟t͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ p͟a͟n͟d͟a͟i͟ b͟e͟r͟s͟y͟u͟k͟u͟r͟.

9. J͟i͟k͟a͟ A͟n͟d͟a͟ p͟e͟d͟u͟l͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟/t͟e͟m͟a͟n͟,  b͟e͟r͟i͟t͟a͟h͟u͟ m͟e͟r͟e͟k͟a͟ t͟i͟p͟s͟ i͟n͟i͟.


 S͟e͟m͟o͟g͟a͟ B͟e͟r͟m͟a͟n͟f͟a͟at

Jumat, 05 Februari 2021

Perempuan tangguh

PEREMPUAN TANGGUH

Astuti menutup matanya rapat. Lelah fisiknya serta penat pikirannya, menanggung beban hidup yang harus di tanggungnya. Dia merasa tidak kuat lagi dengan apa yang menimpanya. Bulir bulir bening tanpa terasa membasahi pipinya dan terasa panas mengalir jatuh di kedua pipinya. Wajahnya kusut tidak lagi bercahaya. Tidak ada lagi rona bahagia, yang bisa buatnya bersuka cita seperti hari hari kemarin. Kedua tulang pipinya juga semakin tampak menonjol termakan kurusnya sang badan. 

“Tuhan, bila ini takdir yang harus aku jalani,..aku rela menaggung semua ini. Asal Engkau selalu mendampingiku serta menolongku,” gumam Astuti lirih.

Di pandanginya putri bungsunya yang baru berumur 3 tahun, yang berbaring pulas di ranjang. Wajah yang begitu lugu tanpa dosa. Haruskah dia ikut merasakan derita yang aku rasakan. Ahh, tidak. Dia tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi` Dia harus tetap ceria layaknya anak anak seusia sebayanya. Astuti membenahi selimut anaknya yang sudah mulai tidak rapi menyelimuti tubuhnya, karena gerakan tidurnya yang tidak karuan. Kemungkinan dia capek bermain dengan teman temannya sesiang tadi.

Dipandanginya langit langit kamar, matanya tidak jua mau terpejam. Astuti masih saja tidak percaya, mengapa Herman suaminya tega menikah lagi dan tanpa seijin darinya. Lebih tragis lagi, Astuti mengetahui kabar itu dari tetangganya yang setiap kali dia lewat di jalan selalu menggunjing dirinya dan suaminya. Hingga pada suatu ketika, Astuti menanyakan kabar tersebut dari Laily, teman tetangganya yang juga sahabat karibnya di Organisasi Fatayat NU dari dulu hingga sekarang dan sekaligus sepupu dari suaminya.

“Maaf ya mbak Lail, akuu…aku mau bertanya boleh kaan?” tanya Astuti gugup dan malu dengan suara yang bergetar.

“Iyaa mbak,  ada apakah? Sepertinya kamu sedih banget. Ada yang bisa saya bantukah   sahabatku?” tanya Laili 

“Maaf, saya hanya ingin mengkonfirmasi tentang berita suami saya, apakah betul dia menikah lagi? Mbak Laily kan masih sepupu mas Herman juga?” Tanya Astuti penuh selidik.

“Beberapa minggu ini, nomornya tidak bisa di hubungi mbak, saya sedih, saya bingung, saya harus bagaimana mbak?” Mata Astuti mulai berkaca kaca, degup jantungnya kian kencang, ingin menumpahkan beban di hati yang sudah menggunung.

Laily berusaha untuk tidak terguncang dengan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan Astuti. Dia harus bijak menyikapi dan tidak boleh terbawa emosi sahabatnya itu. Walau dia juga sangat tidak tega melihat kesedihan yang berat di rasakan Astuti. Dengan hati hati sekali dia mengabarkan serta menasehati Astuti.

“Dik, bersabar yaa. Ini ujian buat kamu dik. Laa yukallifu nafsan illaa wus’ahaa. Saya yaqin kamu kuat. Herman memang sudah menikah lagi dengan karyawan di pabrik barunya. Saya juga tidak habis pikir, apa maksudnya dia berbuat seperti itu. Sabar yaa, Allah akan mengganti semua kesedihan adik dengan kebahagiaan, yaqin yaa?” jelas Laily sambil merangkul tubuh Astuti erat.

Air mata Astuti tumpah, tangisnya pecah dengan suara parau. Deras mengalir air matanya menganak sungai. Dia membenamkan tubuhnya erat di pelukan kakak sepupunya, seakan menghiba ingin menumpah ruahkan segala rasa di dada. Dunia terasa gelap baginya, rasanya tak kuat menanggung seorang diri, apalagi ingat ketiga anaknya yang harus di hidupinya. Dia masih keras berpikir, setega itukah suaminya, sehingga harus menikah lagi.

Malam ini Astuti ingin tenang beristirahat. Lelah sekali memikirkan masalah ini, tapi tetap saja belum bisa memejamkan netranya. Ia kembali ingat pada dzat yang maha segalanya, yang menciptakan masalah dan maha mengurai masalah. Yaah, dia ingat pada Tuhannya. Hanya Allah yang memberinya kekuatan, bahwa dengan pertolonganNya dia mampu lalui ujian ini. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim. Dia memeluk erat putri bungsunya dalam dekapannya, mengelus rambutnya dan mencium keningnya sampai akhirnya dia sendiri terlelap dalam tidur pada saat sudah  tengah malam.

Sementara jauh di luar kota, Herman sedang bercengkerama dengan istri barunya. 

“Rin, aku bahagia sekali bisa memilikimu. Kamu cantik, pintar dan pandai menyenangkan suami” Kata kata Herman mulai membuat Rini tersanjung.

“Ahh, mas Herman bisa saja. \saya jadi malu mas,” kata Rini dengan malu malu. Rini bersandar pada bahu Herman dan duduk berduaan di kursi bludru merah jambu di ruang keluarga sambil menonton acara TV. Tangan sebelah kiri Herman merangkul pinggang Rini dengan rangkulan mesra. Rini yang di nikahinya tampak sangat bahagia. Walaupun dia dinkiahi Sirri oleh Herman tanpa adanya buku nikah. Tapi secara agama itu sudah sah, bila sudah terpenuhi syarat dan rukunnya. Rupanya memang momen inilah yang di manfaatkan oleh Herman untuk menyunting Rini yang wajahnya imut dan manis itu.

 Berawal dari setiap hari bertemu di pabrik baru, Herman terpikat dengan wajahnya yang anggun. Herman yang seorang mandor dan Rini seorang karyawan biasa. Entah apa yang berada di angannya, Dia seakan sudah lupa dengan istrinya yang telah susah payah, jatuh bangun di ajaknya berjuang, membesarkan ketiga anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua dan biaya pendidikan untuk sekolah dan pesantrennya. Nisa, anak pertamanya kelas 3 MTsN di Jombang sekaligus mondok di sana. Ubay anak kedua kelas 6 MI dan mondok juga di pesantren di Jombang satu lokasi dengan kakaknya dan Hadija berusia 3 tahun. Dia pun juga tidak berterus terang kepada Rini bahwa dia sudah beristri dan beranak tiga. Dia hanya mengaku sebagai duda. Tapi karena sudah saling menyukai Rini juga percaya saja kepada Anang akan ketulusan sebuah cinta. Kini keduanya hanyut dalam rasa yang menggiringnya hingga tiba pada sebuah pintu pernikahan.

******

Hari beranjak pagi. Astuti sudah selesai menunaikan ibadah wajibnya dan mengakhirinya dengan doa munajah di hadapanNya. Meminta dengan sangat agar Tuhannya memberi kekuatan untuk bisa tegar hadapi kenyataan yang pahit sekalipun. Tidak pernah lupa juga, doanya selalu terpanjatkan untuk dua anaknya yang sekolah dan belajar di pesantren. Memohon semoga anak anaknya kelak di jadikan anak anak yang sholih sholihah dunia dan akhirat. Matanya masih sembab, semalam dia hanya tidur bebarapa jam saja. Eneginya masih tercurah memikirkan suaminya yang berminggu minggu tidak ada kabar dan tak kunjung pulang. Pun uang nafkah yang harus di terimanya juga tidak di transfer oleh Herman. Di hubungi via handphone juga tidak bisa. Pasrah sudah dia bersujud di hadapan Rabbnya. Tidak banyak yang harus dia lakukan selain pasrah dan menyerahkan semua urusan hanya kepada Allah.

Astuti melepas mukena putihnya. Dia pegangi erat erat mukena itu, dia teringat lagi beberapa puluh tahun lalu, saat suaminya mengucapkan ijab qabul pernikahan di hadapan petugas KUA, kyai pengasuhnya dan abahnya sendiri. Serasa baru kemarin saja kejadian itu. Dan mukena yang di pakai itulah yang menjadi maharnya, dan dia berjanji dalam hatinya akan selalu menggunakan mukena itu untuk ibadah sholat berjamaah bersama suaminya.

“Sekarang kamu sudah tidak ada lagi disini Mas,…kamu tidak lagi menjadi imam dalam sholatku. Kamu sudah berbagi cinta dengan yang lain.” Gumam Astuti sedih. 

Air matapun tak terkendalikan jatuh lagi basahi kedua pipinya. Astuti melipat mukenanya dan menggantungkannya di almari gantung di sudut kamarnya. Kini pandangannya beralih ke anaknya yang satu satunya menemaninya di rumah. Yaah Hadijah kecil yang manis yang jadi pelipur laranya.

“Sayaaang, Hadija bangun yaaa? Katanya ingin ikut umik ke rumah uti. Yuuk, bangun.” Ucap Astuti semangat membangunkan Hadija dengan memencet hidung Hadija.

Hadija mebuka kedua matanya pelan. Di liriknya umi yang berada di sampingnya sambil mengucek ngucek kedua matanya dengan jari jari kecilnya  yang halus dan mungil.

“Ohh, iya mik..hari ini kita kerumah uti yaa? Hadija ikut kaaan…horeee” teriak Hadija dengan girang. “ Aku akan ketemu uti dan akung, yess!!!” Hadija semakin semangat.

“Nahh, yuk Hadija mandi dulu yaa..trus dandan yang cakep, Okkay?” Astuti menyemangati Hadija dengan senang.

“OK mik, aciyaaap” 

Hari ini, Astuti memang berniat untuk silaturrahim kepada bapak ibu mertuanya. Dia ingin bermusyawarah tentang keadaan yang menimpanya. Dia tidak ingin berlarut larut dengan kesedihan. Dia ingin masalah yang menderanya segera diselesaikan dengan baik. Dia ingin meminta saran dan pertimbangan kepada kedua mertuanya. Karena merekalah yang selama ini menjadi tumpuan Astuti setelah kedua orang tuanya tiada.

Setelah selesai beberes, Hadija juga sudah rapi pergilah mereka dengan mengendarai scoopy classic warna coklat gelap. Hadija Nampak senang sekali dengan di gendong uminya di depan. Sambil memegang setir, Astuti menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang, karena membawa Hadija di gendongannya. Jarak rumah Astuti ke rumah mertua sekitar 4 km. Selama perjalanan Astuti mengajak Hadija untuk selalu melantunkan sholawat. Jadi Hadija kecil senang sekali menyenandungkan sholawat dan suka bila di ajari sholawat.

Kurang lebih 40 menit, sampailah keduanya di rumah mertua. Di sambut dengan bapak dan ibu mertua, Astuti sungkem kepada keduanya. Hadija pindah ke gendongan yang kung nya sambil cipika cipiki ke pipi Hadija yang bulat seperti bakpao saja. Setelah beberapa minggu tidak bertemu, rasa kangen cucunya kini terobati. Setelah bercengkerama dengan cucunya kini bapak, ibu dan Astuti berkumpul di ruang tamu. Sementara hadija ikut tantenya bermain dengan anak tantenya itu.

Tidak bisa menahan tangis, Astuti menceritakan semuanya. Kedua mertuanya ikut terharu atas kesedihan yang dialami Astuti. 

“Baiklah nak, emak dan bapakmu akan meminta pulang si Herman itu, biar nanti dia bertanggung jawab atas perbuatan yang dia lakukan padamu dan anak-anakmu. Nanti emak akan kabarkan kalo emak sakit, supaya dia bisa pulang dengan cepat.”kata-kata emak meyakinkan Astuti.

“Iya mak, saya menunggu keputusan dari mas Herman. Saya sudah siasp dengan segala resiko, mau di ceraikan ataupun harus menelan pil pahit kehidupan seandainya dia berpoligami.” jawab Astuti sedih

“Bagaimanapun juga kamu tetap anakku nduk, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Saya akan bertindak tegas kepada Herman, karena kalau sudah seperti ini masalahnya, sebagai orang tua yaa wajib untuk mengingatkan, watawaa shoubil haqqi watawaa shoubis shobr.” Bapak menimpali dengan bijak.

“Maturnuwun emak, bapak, saya menjadi sedikit lega setidaknya, sudah melepaskan kepenatan jiwa dan pikir saya selama ini…karena selama ini bapak dan emaklah yang mengajari saya untuk selalu bermusyawarah bila kita mengalami masalah hidup. Dan tidak baik bagi kondisi psikis saya dan anak-anak bila di biarkan berlarut-larut.” Astuti mengeluarkan uneg unegnya dengan lega.

“Kamu yang tabah ya nduk, sabar, sabar dan selalu sabar. Siapa yang senantiasa bersabar Allah akan selalu bersamanya.” Emak memeluk erat Astuti seakan ingin memberinya kekuatan dan mentranfer energi positif kepada Astuti.

Nggih mak, bapak…InsyaAllah saya akan selalu bersabar, walau hati saya tercabik-cabik harus menerima dan pasrah pada kenyataan taqdir ini, InsyaAllah saya kuat.” Mata bulatnya semakin basah karena derasnya air mata mengalir.

“Kamu boleh tinggal di sini sementara As, supaya kamu bisa terhibur di sini. Bisa bertemu setiap saat dengan orang orang yang sayang kepada kamu dan anak-anakmu. Bapak emakmu ini selalu menyayangi keluargamu  sampai kapanpun.” Bapak juga berusaha menguatkan hati Astuti yang dia sangat mengkhawatirkan hati dan perasaan perempuan.

Enggih bapak, emak…saya beruntung memiliki bapak dan emak yang selalu sayang pada kami, Saya ingin rehat dulu nggih, Saya ijin dulu ke kamar nggih?” Astuti sungkem kepada kedua mertuanya dan menuju ke kamar.

Astuti memasuki kamar yang dulu menjadi kamar pengantin barunya. Dikamar inilah dia memadu cinta untuk pertama kalinya menikmati malam pertamanya. Kamar ini masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Dipan ukir dari kayu jati, lemari baju dari aluminium dan kaca masih berdiri di pojok kamar ini. Meja rias dan kursi kecil juga masih saja ada di dekat lemari baju.  Gordin satin berwarna merah hati juga masih sama, menghiasi jendela kaca hias bermotif gambar bunga dan kupu-kupu. Dia melongokkan wajahnya menuju jendela itu, dan melihat di luar kamar masih tertata rapi bunga-bunga kamboja merah jambu, mawar yang sedang merekah warna warni dengan indah. Apalagi di musim hujan ini, bunga-bunga itu seperti tersenyum kepadanya. Kini, dia ingin sekali melepas kepenatan dengan merebahkan punggungnya ke dipan ukir.

“Mas, aku akan tunggu engkau pulang. Aku ridha bila engkau memaduku. Tapi bila engkau minta ijin kepadaku. Apapun keputusanmu, aku sudah siap menerimanya. Semoga kamu ingat aku dan anak anakmu, ingat keluargamu.” Astuti betul betul sudah pasrah.

“Umiiiii,…umii…”suara cempreng Hadija menyadarkanku dari lamunanku.

“Hadijaaa, anak umi, hmmuuaah..sudah selesai bermainnya sayang?’ Tanya Astuti sambil mendaratkan ciuman sayang genmesnya.

“Sudah umi, kan sudah terdengar adzan tuuh, kan umi selalu bilang kalau ada adzan harus berhenti bermainnya, iya kan miii?” celoteh Hadija menggemaskan. 

“Anak umi memang pintar dan sholihah, sekarang kita sholat berjamaah dulu yaa, sama yang kung dan yang ti, okay,..toss dulu..” 

“Aciyaap mii,” Hadija senang  sambil menempelkan tangan kanannya semangat bertemu dengan tangan uminya sebagai tanda tos.

Keduanya menuju mushola, berwudlu dan sholat berjamaah bersama keluarga bapak ibu mertuanya. Setegar hatinya seyaqin harapannya, Astuti tetap harus mampu melalui ujian ini. Dengan tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. Menjadi wonder woman. Apalagi di masa pandemi ini. Dia harus mampu menjaga iman dan imunnya dan anak anaknya.  Menjalankan usaha online mandiri, aktif di organisasi, menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya harus tetap dia jalankan.. Dan penantiannya akan keputusan suami yang di cintainya.Dia pasrahkan segalanya kepada Rabb yang mengatur hidupnya. 




Selasa, 29 Desember 2020

Lukisan Cinta di Usia Senja

 Lukisan cinta di usia senja


Seraut wajah dalam bingkai ini, membawaku berkelana untuk melukiskan cinta sejatinya. Cinta abadi hingga kini tak pernah bisa terganti. Cinta yang sarat akan ketulusan, keikhlasan dan kesabaran. Tak pernah ada istilah php.


"Emaak," gumamku lirih sembari memegang dan memandangi wajah teduh yang selalu ku rindu.

Aku kembali merebahkan punggungku yang seharian tadi sibuk dengan tugas di kantor, cukup penat aku di buatnya. Menginput data data yang deadline hari itu juga harus di setor ke koordinator. 


Kupandangi lagi buah bingkai di dinding, wajah yang selalu teduh ku pandang, seteduh nasehat nasehat yang di berikannya padaku terdahulu. "Aku rindu saat saat seperti itu maak", mataku berkaca kaca ingat akan belaian tulusnya.


Disaat aku sedang punya masalahpun, kau selalu tahu dengan naluri instingmu yang sangat kuat. Kau seolah malaikat yang selalu mengikuti langkahku kemana aku berada.


Emak, walaupun tidak berpendidikan tinggi, tapi kemampuannya, dedikasinya dalam mendampingi dan membesarkan anak anaknya sungguh luar biasa. Dan luar biasanya lagi tidak pernah ada award yang mengapresiasi jasa seorang ibu. 


Menjadi seorang ibu,  yang berperan adalah hati, adalah nalurinya. Bukan memerlukan otak sebriliant Einstein, tidak. Jadi hanya memerlukan kecerdasan intrapersonalnya, dan kecerdasan spiritualnya seorang emak sudah bisa mendewasakan anak, menasehatinya dengan cara bijak dan hasanah.


Guratan garis di keningnya, adalah gambaran beban beban pikiran yang dipikulnya. Sepasang tumit kaki yang kasar itu juga kekuatannya menopang bagaimana menjadi wirausaha untuk kebutuhan anak anaknya. Telapak tangannya yang kasar adalah budidayanya mengusahakan layar ekonomi tetap terkembang. 


Makhluk mana yang sanggup bekerja nonstop loss dol sampai 24 jam? Tidak ada jeda istirahat? Tidak ada gaji sepeserpun? Apalagi reward dan bonus? Coba kita cari diseantero dunia, pasti tak akan mampu seluruh makhluk. Dan yang mampu adalah hanya seorang perempuan yang bernama emak, ibu, umi, bunda, mama..


Di usiamu yang telah senja, ingin kulukiskan cinta seindah nirwana, tak kan ada cinta layaknya cinta emak, tak kan ada ketulusan, kesabaran dan ketabahan  di banding apapun di dunia ini, cintamu abadi kan ku kenang sampai mati. Karangan bunga dari florist yang terindah pun tak akan mampu melukiskan cintamu.


Love emakku❤️

Kamis, 28 Mei 2020

Indah itu ada padaNya

Mungkin..
Terlalu sarat
Hingga merasa berat
Tak lagi urus wajah pucat
Yang ada hanyalah
Dia dan mereka yang sangat dekat
Sedekat kulit dan urat..

Sederet ingin menggelayut..
Penuhi otak yang semakin mengkerut
Ini, itu, sana, sini berurut..
Haruskah smua memenuhi tuntut
Kala daya ambisi merajut..
Meminta untuk selesai dengan runtut

Diri hanyalah..
Makhluk sekumpulan tulang..
Yang bisa berdiri tegak bila ada yang menegakkan..
Terbungkus daging supaya terdesign lebih indah
Di lengkapi otak dan rasa sehingga nyata sempurna..

Semua berjalan alami
Karena ada Sang Pengendali
Jika kita menuntut diri
Untuk penuhi ambisi..
Sadarkah diri???

Senin, 25 Mei 2020

Allah mendengar keluh kita



Kita sebagai hamba selalu di sibukkan dengan beberapa urusan di dunia. Kalau kita tak mau repot dengan urusan yaa jangan hidup. Simpel saja kita mikir, mau hidup berarti yaa mau repot.

Namun terkadang akhir dari repot itu, ujung ujungnya kita mengeluh karena faktor capek, pusing dengan ekspektasi yang tidak sesuai harapan kita. Karena dari awal kita hanya berorientasi pada penumpukan dunia, mencari uang demi pemenuhan kebutuhan. Wal hasil, tumpukan kelelahan fisik dan kepenatan jiwa mulai terasa. Karena apa? Semua tidak di landasi ikhlas mencari rifhoNya dan kurang memiliki jiwa tawakkal kepadaNya. Kita hanya berfikir bahwa dengan kekuatan daya kita, semua akan berakhir sesuai yang kita upayakan.

Tapi dengan kuasa Allah, Allah menghendaki tidak sesuai apa yang kita inginkan. Tapi dengan kehendakNya dan rahmatNya yang tiada batas, seakan jauh melampaui apa yang kita pikirkan. Yang tadinya kita berpikir dengan cara dan model yang kita usahakan, di saat terpuruk, yang kita usahakan justru tidak menuai hasil.

Nah, di sini kita perlu mengubah mindset kita, berbalik arah untuk fokus kepadaNya, bagaimana kita bisa" iyyaka na'budu waiyyaaka nasta'iin."
Dengan tetap menjalankan perintah wajib dan yaqin bahwa ada kekuatan maha dahsyat yang membantu kita terurai dari keterpurukan. Laahaula walaa quwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adziim.

Barang siapa yang taqwa dan bertawakkal kepada Allah, maka akan di datangkannya rizki dari arah yang tidak di sangka sangka.
Allohu a'lamu.







Rabu, 06 Mei 2020


Mungkin saya orangnya kurang fokus di pelatihan ini. Maaf yaa guruku Aa Fajar, saya murid paling bandel di sini. Baru kelabakan kalau semua peserta sudah mengerjakan tugasnya.

Tapi saya tak boleh menyerah dengan keaadaan, walaupun multitasking, semua harus saya lalui dengan baik.
Saya berjanji dalam hatiku sendiri untuk selalu meningkatkan kualitas diri termasuk ikut pelatihan di sini. 
Trimakasih untuk guruku yang sabar mengajar dengan tulus hati.
Semoga ilmu ini membawa manfaat untuk kebermanfaatan diri dan orang banyak. Aamiin.
*Puan Penjaga Hati*

Kusibak tirai di pagi Hari
Tersorot mentari menghangatkan bumi
Menghempas sirna kegelisahan dalam sanubari
Setelah sekian waktu berganti

Terlintas kuat membayangi
Sebuah potret diri menghiasi
Layar alat komunikasi menjadi saksi
Hadirnya puan di hati ini

Angan melayang pada sosok di seberang
Yang belakangan tak jemu untuk dipandang
Semoga rasa ini tak pernah hilang
Bersamamu aku merasa tenang

Jogjakarta, dalam bayangan indah Zahra, 07052020